Tuesday, 24 December 2013

Usaha Telur Asin Asap Khas Bledug Kuwu


Menggali potensi bisnis di Kabupaten Grobogan memang seakan tak pernah ada habisnya. Sabtu (14/5) yang lalu tim liputan bisnisukm.com kembali menyambangi salah satu UKM yang ada di Daerah Kradenan, kabupaten Grobogan yang fokus memproduksi telur asin asap.

Membicarakan Desa Tegal Kuwu, tentunya Anda tidak asing lagi dengan obyek wisata Bledug Kuwu yang terletak di Kabupaten Grobogan. Berjarak kurang lebih 25 km ke arah timur dari pusat kota Purwodadi, pada liputan kali ini ada sisi menarik yang kami dapatkan karena lokasi UKM cukup dekat dengan obyek wisata Bledug Kuwu tersebut.

Gunadi (36) selaku pemilik usaha telur asin asap “Insana” ini mengungkapkan bahwa telur asin yang beliau ramu adalah salah satu inovasi baru dalam pembuatan telur asin. “Dengan metode pengasapan atau memasak kembali telur asin yang sudah matang ke dalam tungku khusus, diperoleh hasil telur asin yang unik berwarna coklat muda dengan citarasa lezat yang berbeda,” ujarnya ketika dikunjungi tim bisnisukm. Mengingat warnanya cukup unik, menjadikan telur asin asap ini dapat dikenali dengan mudah oleh para konsumen.

Disamping warnanya yang berbeda dengan kisaran harga lebih terjangkau, telur asin asap ini juga diramu menggunakan resep khusus. “Untuk melumuri telur asin pada saat proses pembuatannya saya khusus menggunakan tanah dari sekitar obyek wisata Bledug Kuwu,” tutur bapak dua anak tersebut. Untuk rasa jangan ditanya, telur asin Insana ini memiliki rasa yang lezat, legit, masir dan tentunya bergizi tinggi. Tak hanya itu saja keunggulan yang ditawarkan oleh Gunadi, Ia juga tidak menggunakan bahan pengawet dan pewarna sehingga produk tersebut aman dikonsumsi bagi siapa saja. Bahkan sekarang ini citara telur asin Insana tidak hanya dikonsumsi masyarakat sekitar, namun juga dijadikan sebagai bingkisan oleh-oleh khas dari Bledug Kuwu untuk kerabat, sanak keluarga di rumah.

Kisah Sukses Mengawali Usaha Telur Asin

pembuatan telur asin asapKepada tim bisnisukm.com Gunadi menuturkan bahwa Ia mengawali usahanya pada tahun 2008 silam. “Saya ingin memunculkan ide yang berbeda, apalagi di wilayah tempat tinggal saya memang masih jarang ditemui produk sejenis, biasanya telur asin yang saya temui hanya bewarna biru muda,” jelas lelaki kelahiran 14 April 1977 ini.

Berbekal gagasan tersebut, kemudian Ia mencari berbagai referensi untuk memperkuat ide bisnisnya. Gunadi yang memang kebetulan berprofesi sebagai seorang guru di salah satu SMP di daerahnya, tentu tidak kesulitan untuk mendapatkan ilmu tentang telur asin asap. Berbagai pelatihan usaha kecil pun Ia geluti melalui program-program yang diadakan pemerintah Kabupaten Grobogan. Salah satunya saja pelatihan tentang teknik pembuatan telur asin dan sempat juga mengadakan studi banding ke kota Brebes sebagai maestronya gudang telur asin yang sudah cukup terkenal.

Keaktifannya dalam mengembangkan keterampilan dan keikutsertaannya pada pameran-pameran UKM yang sering diadakan pihak pemerintah maupun swasta, membuat produk telur asin asap ini semakin dikenal luas oleh masyarakat. “Ternyata teknik lumuran bledug kuwu saya tak kalah bersaing untuk menghasilkan kualitas telur asin yang diinginkan konsumen, terbukti sekarang ini telur asin yang dihasilkan sangat masir namun tidak begitu asin,” ungkap Gunadi dengan bangga. Namun bila konsumen menghendaki rasa telur yang benar-benar asin, Anda dapat mencicipinya untuk jenis telur asin asap.

Selain aktif mengikuti pameran-pameran yang diadakan, selama ini strategi pemasaran yang dilakukan Gunadi yaitu memasukkan produk telur asin pada supermarket-supermarket yang ada di sekitar Kabupaten Grobogan. Dan hasilnya cukup memuaskan, setiap minggunya Insana memiliki kapasitas produksi mencapai 1.000 butir telur asin dengan omzet per bulan mencapai angka Rp 8 juta hingga 10 juta bila memasuki hari raya tiba.

Untuk pemenuhan bahan baku telur asin, Gunadi sengaja bekerjasama dengan beberapa peternak bebek di wilayah Penawangan dan Kradenan. Jadi walaupun sedikit ada kendala, namun setiap minggunya kebutuhan bahan baku masih bisa tercukupi. Dan untuk meminimalisir pecahnya telur saat pengiriman ke tempat konsumen, Gunadi meminta pelanggannya untuk bisa cash and carry.

telur asin groboganSetiap butir telur asin asap Insana dibandrol Gunadi mulai dari mulai Rp 2.880,00 sampai Rp 3.120,00 per butir. Sedangkan untuk pembelian per 100 butir telur asin asap dihargai Rp 2.990,00-Rp 2.760,00 untuk grosir. Dan untuk harga telur asin biasa dipasarkan seharga Rp 2.730,00 hingga Rp 2.520,00, sedangkan per 100 butir dibandrol RP 2.400,00-Rp 2.600,00.

Tidak hanya berhenti berinovasi di produk telur asin, sekarang ini ada satu produk baru yang dikembangkan Gunadi dan cukup laris dipasaran, yaitu kacang presto asap dengan harga Rp 7.200,00 sampai Rp7.800,00/pcs dalam kemasan 200 gram. Dan bila konsumen menghendaki curah per kilogramnya dipatok dengan harga yang cukup terjangkau yaitu Rp 32.500,00/ kg.

Dari usaha telur asin asap yang Ia rintis, kedepannya Gunadi berharap dapat lebih menjangkau pasar-pasar domestik dan mampu bersaing dengan telur asin dari daerah lain.

Tim liputan bisnisukm

Sukses Dengan Budidaya Durian


Menekuni usaha agrobisnis memang tidak memandang latar belakang profesi, pendidikan maupun usia sang pelaku usaha. Berbekal pengalamannya di masa kecil dan kejeliannya dalam mengamati kebutuhan pasar, seorang AKP drg Legawa Hamijaya mulai tertarik menggeluti dunia agrobisnis sebagai peluang bisnis sampingan yang dijalankannya di sela-sela tugas utamanya menjadi seorang dokter gigi.

Meskipun saat itu Ia telah memiliki posisi yang cukup nyaman yaitu sebagai dokter polisi di Provinsi Lampung dan membuka praktek dokter gigi di kediamannya, namun lelaki kelahiran Yogyakarta 7 Januari 1975 ini masih belum puas dengan kesuksesan yang dicapainya. Naluri bisnis yang Ia miliki sejak kecil ternyata tidak bisa dibendung lagi dan Ia pun mulai menyewa lahan disekitarnya untuk membudidayakan aneka macam tanaman sayur yang cukup potensial di daerah Lampung. Seperti misalnya caisim, pakcoy, serta cabe yang kemudian terpaksa ditinggalkannya karena waktu luang yang Ia miliki tidak cukup untuk menangani tanaman tersebut secara intensif.

Kegagalannya dalam menjalankan bisnis budidaya sayur ternyata tidak membuat suami dari dr.Retno Anmi ini menyerah pada keadaan. Setelah mengevaluasi kegagalan bisnisnya yang terdahulu, Ia mulai beralih memilih tanaman tahunan seperti buah-buahan yang tidak membutuhkan perawatan ekstra dalam membudidayakannya.
Serius Menekuni Budidaya Durian

Berbekal uang tabungan dari hasil membuka praktek dokter, di awal tahun 2001 Legowo memutuskan untuk membeli kebun seluas 10 hektar di kawasan Sukadanaham, Provinsi Lampung. Kebun tersebut ditanami pohon kakao seluas 6 ha, pohon durian seluas 2 ha, dan sisanya 2 ha ditanami berbagai macam komoditas potensial seperti alpukat, kelapa, cengkeh, petai, singkong, dan tanaman lainnya yang bersifat musiman.
Melihat kemajuan bisnisnya yang semakin hari semakin pesat, alumni Fakultas Kedokteran pengusaha suksesGigi Universitas Gadjah Mada ini mulai serius mengembangkan kebun miliknya pada tahun 2003. Ia sengaja mempekerjakan dua karyawan dan memutuskan untuk lebih fokus membudidayakan aneka jenis durian lokal (seperti jenis siawi, sikoneng, siorens, dan silodong) untuk mendatangkan untung yang lebih besar.

Bermodalkan 160 pohon durian yang ada dikebunnya, Legowo membangun kios di depan rumah dan mempersilahkan para konsumen untuk berkunjung langsung ke kebun duriannya guna memilih buah yang akan mereka beli. Strategi ini ternyata cukup efektif untuk menarik minat konsumen, sehingga kebun duriannya selalu ramai dikunjungi pecinta raja buah dan omset puluhan juta rupiah pun berhasil dikantongi bapak dua putra ini.

Keseriusan dokter gigi ini dalam mengembangkan kebun durian memang tidak perlu diragukan lagi, untuk meningkatkan pengetahuan serta pengalamannya dalam mengembangkan bisnis durian, Ia bahkan sengaja mengikuti berbagai macam pelatihan budidaya durian serta beberapa kali mengikuti kegiatan studi banding hingga ke negara Thailand untuk meningkatkan kualitas produk duriannya. Ketekunan, kejelian, serta kecintaannya pada sektor agrobisnis, menjadi modal utama bagi AKP drg Legawa Hamijaya dalam mencapai puncak suksesnya.

Semoga kisah sukses pengusaha agrobisnis yang mengulas tentang budidaya durian mengantarkan dokter polisi jadi jutawan ini bisa memberikan inspirasi baru bagi masyarakat luas untuk segera memulai usaha. Mulailah dari yang kecil, mulailah dari yang mudah, mulailah dari sekarang. Salam sukses.

Berburu Kertas dan Botol Bekas

Tak pernah terpikir oleh Irene akan menjadi pemilik dan pendiri PT. Recycle Indonesia Utama Mandiri (Recyclindo), perusahaan yang menyediakan solusi menciptakan lingkungan hidup yang bersih. Recyclindo menerapkan sistem pengelolaan sampah berbasis zero waste management. “Kalaupun mimpi punya bisnis, saya ingin berbisnis kuliner atau restoran, karena bidang saya F&B,” ujar wanita kelahiran 29 April 1974 ini.

Lantas, apa yang membuatnya tertarik pada masalah sampah hingga mau nyemplung dan menjadikannya sebagai ladang bisnis? Sejak lama ia prihatin melihat perilaku masyarakat yang cenderung cuek pada sampah. Kepeduliannya ini kemudian diwujudkan dengan membeli sampah dari staf housekeeping hotel, berupa kertas, botol, dan kaleng aluminium, untuk kemudian dijual lagi.

Irene lalu mulai belajar cara mengolah sampah dengan mengambil kursus 3 hari intensif mengenai zero waste management di BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi). “Dari kursus itu, wawasan saya makin terbuka tentang apa yang bisa saya lakukan pada sampah.”

Saat mengambil kursus itu, ada pengalaman yang membekas, antara lain kunjungan ke tempat pembuangan sampah Bantar Gebang, Bekasi, dan rumah jagal DKI di Cakung. Di Bantar Gebang, Irene tertegun melihat berbukit-bukit sampah. “Saya sempat ‘mabuk’, mungkin karena tidak terbiasa mencium bau sampah. Apalagi, saya alergi terhadap debu,” kenangnya.

Lain lagi pengalaman yang ia peroleh saat mendatangi rumah jagal DKI, tempat pemotongan hewan. Di dekat situ ada tempat pengomposan dari bahan sisa daging. “Ya, ampun, baunya tajam dan menyengat! Setelah kunjungan itu, saya langsung jatuh sakit. Tapi, dalam 3 hari itu banyak sekali pelajaran berharga yang saya peroleh,” tutur Irene.
Usahanya berjalan setahap demi setahap. Dari awalnya berburu sampah kering, naik truk dengan membawa tas kresek ke mana-mana, sampai akhirnya ia punya langganan pemasok. Ia mendapat kontrak untuk mengangkut sampah non-organik. Sisanya masih
dibuang ke tempat pembuangan milik Pemda.

Ia tak segan merogoh kocek Rp100 jutaan sebagai modal awal, antara lain untuk membeli truk second-hand dan menyewa lahan sebagai gudang. “Mengolah sampah organik itu tidak mudah. Untuk itu, kami perlu lahan lebih luas. Kalau salah, nanti bisa-bisa dikomplain tetangga,” ujar Irene, yang mengambil lokasi di kawasan Cinangka, Sawangan, Depok.

Irene mulai mencari lahan baru di daerah Parung, Bogor. Ia ingin lebih memaksimalkan pengolahan sampah. Sejak akhir 2009, di tempat barunya itu ia mulai mengolah sampah organik menjadi pupuk kompos. “Learning by doing. Kami hire konsultan untuk memastikan proses yang kami lakukan ini sudah benar. Misalnya, kompoisi dan kelelembapannya. Kompos harus selalu basah, supaya cepat busuk.”

Monday, 23 December 2013


Kita tahu enceng gondok adalah tanaman yang hidup di rawa rawa dan banyak dari kita yang kurang tahu tentang manfaat dari enceng gondok. Disini seorang anak muda bernama Rafi Hartono bersama temannya mencoba memanfaatkan enceng gondok yang dianggap sebagian orang sebagai tanaman pengganggu dan ia mencoba mengolahnya menjadi sebuah mainan mobil-mobilan anak-anak yang terbuat dari enceng gondok.

Bersama dengan teman-temannya Rafi Hartono mencoba membuat mainan mobil-mobilan dari enceng gondok sejenis Bemo. Melalui keuletannya, enceng gondok tersebut disulap menjadi produk kreatif yang dapat mendatangkan pundi-pundi rupiah ke kantongnya.

Harapan Rafi bersama teman-temannya terkabul. Suatu ketika datang seseorang yang menawar mobil-mobilan tersebut. Beberapa waktu kemudian, ia didatangi oleh Dinas Pemuda dan Olahraga Semarang dengan tujuan membantu pemasaran dan pemberian modal/dana usaha.

Produk kreatif yang ditawarkan oleh Geni Art diantaranya adalah lokomotif kereta yang dijual dengan harga Rp 375 ribu, mobil bemo Rp 85 ribu, kotak tissue seharga Rp 35 ribu, dan tutup lampu Rp 60 ribu.

kerajinan-enceng-gondokDalam soal pemasaran, Rafi mengaku tidak mengalami kesulitan. Ia mengatakan membuat produk apa saja pasti akan laku, karena produk kreatif buatannya banyak diminati oleh pembeli. Justru yang menjadi kendala utama usahanya adalah terbatasnya SDM yang kreatif.

Kendala lain yang diungkapkan oleh Rafi adalah menciptakan model atau produk terbaru bagi usahanya. Selama ini ia menciptakan model terbaru melalui ide kreatifnya sendiri dengan melakukan berbagai percobaan atau melalui internet.

Soal modal usaha, Rafi juga tidak terlalu kuatir, karena saat ini ada bank yang bisa memberikan modal bagi usaha kreatif yang dikelolanya. Bank yang disebut oleh Rafi adalah Bank Mandiri.

Untuk meminjam pun tidak terlalu sulit. Sekarang sudah ada bank yang percaya pada kerajinan enceng gondok yang ada di tempat kami, jadi agak mudah kalau mau mengajukan pinjaman Bank.

Soal bahan baku yang biasanya dikeluhkan oleh para pengusaha, Rafi tidak mempersoalkan masalah tersebut. Bahan baku enceng gondok bisa ia peroleh dengan mudah, karena di tempat tinggalnya berdekatan dengan rawa yang memang banyak terdapat enceng gondok.

Jika dulu ia mencari sendiri enceng gondok tersebut, kini ia mengerahkan masyarakat setempat untuk memenuhi kebutuhan eceng gondok itu. Biasanya ia membeli Rp 3.500/kg enceng gondok kering atau Rp 1.500/kg untuk enceng gondok basah.

Agar enceng gondok bisa dipakai, enceng gondok harus dalam kondisi kering. Jika ingin ecneng gondok yang berbentuk lembaran, maka pertama-tama kupas enceng gondok untuk dibuang isinya. Setelah itu baru kemudian dijemur.

Proses pengeringan biasanya memakan waktu selama 3 hari. Yang perlu diingat dalam proses pengeringan adalah jangan sampai enceng gondok bersentuhan dengan tanah karena akan menimbulkan jamur. Jika sudah demikian, maka enceng gondok tidak bisa dipakai lagi.

Isi enceng gondok ternyata juga tak kalah bermanfaat dibanding kulitnya. Isi enceng gondok yang telah dihancurkan kemudian dicampur dengan lem ternyata juga bisa bermanfaat untuk membuat produk kreatif.

Setelah berbentuk bubur dan dicampur dengan lem, cetak bubur tersebut sesuai keinginan. Salah satu produk Geni Art yang terbuat dari bubur isi enceng gondok adalah tutup lampu.

Dengan ide kreatif dan larisnya pembeli, dalam sebulan Rafi bisa memperoleh omzet sekitar Rp 8 juta/bulan. Pengeluaran yang dikeluarkan untuk usaha ini-pun tidak terlalu besar. Untuk memenuhi permintaan konsumen, dalam sebulan Rafi bisa menghabiskan 150 kg enceng gondok, 10 kaleng lem (30 kg/kaleng), dan 50 kertas daur ulang.

Rafi berharap agar usaha kreatif enceng gondok semakin berkembang dan diharapkan dapat mengurangi jumlah pengangguran. Kini, Rafi telah memiliki showroom sendiri di rumahnya. Ia berharap kelak showroom tersebut bisa digunakan sebagai tempat untuk mengumpulkan berbagai hasil kerajinan kretaif di tempatnya.

Jika Anda mempunyai ide kreatif, munculkan ide Anda dalam bentuk sebuah produk. Jika sudah demikian, maka Anda akan mendulang kesuksesan yang sama seperti Rafi Hartono, pemilik Geni Art.

Berikut adalah kisah pendiri produk pakaian jadi “Dannis” specialis pakaian muslim. Dengan modal awal Rp.1juta dan keuletan berusaha kini beromset Rp 2 milyar. Salah satu kisah sukses yang bisa menjadi inspirasi bagi kita semua.

Sebuah inspirasi bisa muncul dari mana saja, termasuk dari keluarga sendiri. Tati Hartati pun bisa menjadi seorang pengusaha pakaian muslim yang sukses berkat terinspirasi kemandirian ibu kandungnya.

Sewaktu kecil dulu, pemilik “Rumah Dannis” ini hidup dalam keprihatinan. Untuk membeli pakaian saja tidak mampu. Bila ingin baju baru, sang ibu rajin membuatkan baju untuk Tati dan juga saudara-saudaranya.

Alhasil, Tati terbiasa mengenakan pakaian hasil jahitan sang ibu. Begitu pula ketika Hari Raya Lebaran tiba. Ketekunan dan ketelatenan sang ibu inilah yang menjadi sumber ilham bagi Tati untuk memberanikan diri menjahit pakaiannya sendiri saat duduk di kelas empat sekolah dasar (SD).

Sejak itu pula Wati belajar mandiri. Setidaknya, dia tak lagi meminta uang jajan kepada orangtuanya lantaran dia bisa mencari uang sendiri dari jualan pakaian boneka dan tempat pensil. Apalagi hasil keterampilan tangan Tati semakin terkenal di kalangan teman-temannya. “Di sekolah jadi banyak yang tahu, dan pesanan terus bertambah,” kenang Tati.

Setelah lulus sekolah kejuruan itu, bukannya bekerja, Tati malah masuk ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Tidak tanggung-tanggung, dia bisa kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB) hingga berhasil meraih gelar insinyur kimia.

Setelah lulus kuliah, Tati pun harus bekerja di kantoran. Maklum, ketika itu sang ayah memasuki masa pensiun dari sebuah badan usaha milik negara (BUMN). Tanggung jawab keluarga seolah berpindah ke pundak Tati. “Ibu saya tidak bekerja dan ayah pensiun. Jadi, untuk biaya kuliah adik, saya harus mencari uang,” kata Tati.

Setelah menikah pada 1998, ternyata sang suami tidak mengizinkannya bekerja di kantoran. Larangan inilah yang menjadi dorongan kuat bagi Tati untuk berjualan pakaian buatan sendiri. Dengan modal Rp 1 juta dari suami, Tati mulai membuktikan keahliannya dalam menggambar dan mendesain pakaian. Itu semua dia lakukan di sela-sela kegiatan mengurus rumah dan anak.

Meski disambi mengurus rumah tangga, saban bulan, Tati mampu membikin 50 potong pakaian anak. Semuanya dia desain, jahit, dan bordir sendiri. “Jiwa saya selalu ingin menghasilkan sesuatu,” ujar Tati.

Dan ternyata, baju anak hasil kreasinya diterima pasar. Tati pun kian semangat. Dia juga mulai berani memasang merek Dannis pada baju bikinannya.

Lantas, tumbuh pula kepercayaan dirinya untuk mengembangkan usaha. Tati mulai memproduksi pakaian muslim dewasa, mukena, hingga jilbab.

Sayang, kali ini tidak laku. Toko-toko pakaian di Surabaya tidak mau menjual produknya. Ternyata, pakaian muslim buatan Tati bukan segmen dari toko-toko pakaian itu. Dia lantas berpikir, produk Dannis harus jelas target dan segmentasinya. “Akhirnya saya fokuskan produk ini untuk kalangan menengah ke atas,” tutur Tati.

Untuk bisa membuat model baju dengan mode mutakhir, Tati rajin menonton acara mode di televisi, membuka majalah wanita, hingga jalan-jalan ke berbagai kota. “Kalau lihat ada pameran fashion di televisi, saya selalu membayangkan berada di acara tersebut dan melihat semua desain untuk menyelami,” ujar Tati.

Omset Rp 2 miliar
Di dunia mode, Tati merasakan sebuah ide itu menguras pikiran dan tenaga; hingga terkadang Tati merasa jenuh. Tapi, karena bisnis ini menguntungkan, dia pun tetap senang menjalaninya.

Kemampuannya berimajinasi soal model membuat busana Dannis selalu segar. Karena itu, tak perlu heran kalau bisnis Tati juga terus berkembang. Sekarang ini Tati mampu memproduksi 35.000 potong baju dengan omzet mencapai Rp 2 miliar per bulan. Harga termahal dari baju muslim bermerek Dannis ini Rp 250.000.

Tati kini memperkerjakan 1.000 orang karyawan dengan melibatkan 500 agen yang tersebar di kota-kota besar. Dia menerapkan konsep kemitraan. “Jadi, saya tidak perlu membuat gerai, sehingga lebih efektif dan efisien,” imbuh Tati.

Kendati sudah malang melintang di dunia busana, pakaian muslim buatan Tati tak lepas dari kritikan, termasuk dari konsumen. “Saya anggap kritikan itu sebagai pemacu untuk menampilkan produk yang lebih baik lagi,” ujar Tati.

Sumber : diradja.wordpress.com

Namanya Susi Pudjiastuti, Presiden Direktur PT ASI Pudjiastuti yang bergerak di bidang perikanan dan PT ASI Pudjiastuti Aviation yang merupakan operator penerbangan Susi Air.

Bukan hanya bahasa Inggris fasih yang keluar dari mulutnya saat berbincang dengan para pilotnya yang bule. Susi – panggilan akrabnya – juga menggunakan bahasa Sunda dan sesekali bahasa Jawa kepada pembantu-pembantunya.

Saat ini, wanita kelahiran Pangandaran, 15 Januari 1965 tersebut, memiliki 50 unit pesawat berbagai jenis. Di antaranya adalah Grand Caravan 208B, Piaggio Avanti II, Pilatus Porter, serta Diamond DA 42. Kebanyakan pesawat itu dioperasikan di luar Jawa seperti di Papua dan Kalimantan. “Ada yang disewa. Namun, ada yang dioperasikan sendiri oleh Susi Air. Biasanya dipakai di daerah-daerah perbatasan oleh pemda atau swasta,” jelas wanita yang betis kanannya ditato gambar burung phoenix dengan ekor menjuntai itu.

Story

Ingin pinjam uang di Bank dianggap gila, akhirnya jual Cincin dan Perhiasan yang dia punya buat modal bakul ikan. Keputusannya keluar dari sekolah saat masih berusia 17 tahun sangat disesalkan oleh kedua orang tuanya. Namun, berkat keuletan dan kerja kerasnya, kini Susi Pudjiastuti memiliki 50 Pesawat Terbang dan pabrik pengolahan ikan yang berkualitas untuk melayani kebutuhan ekspor.
Bakat bisnis Susi terlihat sejak masih belia. Pendirian dan kemauannya yang keras tergambar jelas saat usia Susi menginjak 17 tahun. Dia memutuskan keluar dari sekolah ketika kelas II SMA. Tak mau hidup dengan cara nebeng orang tua, dia mencoba hidup mandiri. Tapi, kenyataan memang tak semudah yang dibayangkan.
“Cuma bawa ijazah SMP, kalau ngelamar kerja jadi apa saya. Saya nggak mau yang biasa-biasa saja,” ujarnya.
Kerja keras pun dilakoni Susi saat itu. Mulai dari berjualan baju, bed cover, hingga hasil-hasil bumi seperti cengkeh. Setiap hari, Susi harus berkeliling Kota Pangandaran menggunakan sepeda motor untuk memasarkan barang dagangannya. Hingga, dia menyadari bahwa potensi Pangandaran adalah di bidang perikanan.
“Mulailah saya pengen jualan ikan karena setiap hari lihat ratusan nelayan,” tuturnya.
Pada 1983, berbekal Rp 750 ribu hasil menjual perhiasan berupa gelang, kalung, serta cincin miliknya, Susi mengikuti jejak banyak wanita Pangandaran yang bekerja sebagai bakul ikan. Tiap pagi pada jam-jam tertentu, dia nimbrung bareng yang lain berkerumun di TPI (tempat pelelangan ikan).
“Pada hari pertama, saya hanya dapat 1 kilogram ikan, dibeli sebuah resto kecil kenalan saya,” ungkapnya.
Tak cukup hanya di Pangandaran, Susi mulai berpikir meluaskan pasarnya hingga ke kota-kota besar seperti Jakarta. Dari sekadar menyewa, dia pun lantas membeli truk dengan sistem pendingin es batu dan membawa ikan-ikan segarnya ke Jakarta.
“Tiap hari, pukul tiga sore, saya berangkat dari Pangandaran. Sampai di Jakarta tengah malam, lalu balik lagi ke Pangandaran,” ucapnya mengenang pekerjaan rutinnya yang berat pada masa lalu.
Meski sukses dalam bisnis, Susi mengaku gagal dalam hal asmara. Wanita pengagum tokoh Semar dalam dunia pewayangan itu menyatakan sudah tiga kali menikah. Tapi, biduk yang dia arungi bersama tiga suaminya tak sebiru dan seindah Pantai Pangandaran. Semua karam. Dari suaminya yang terakhirlah, Christian von Strombeck, si Wonder Woman ini mendapat inspirasi untuk mengembangkan bisnis penerbangan.

“Dia seorang aviation engineer,” lanjutnya. Christian merupakan seorang ekspatriat yang pernah bekerja di IPTN (Industri Pesawat Terbang Nusantara yang sekarang bernama PT DI, Red). Awal perkenalannya dengan lelaki asal Prancis itu terjadi saat Christian sering bertandang ke Restoran Hilmans milik Susi di Pantai Pangandaran. Berawal dari perkenalan singkat, Christian akhirnya melamar Susi.
Dengan Christian, Susi mulai berangan-angan memiliki sebuah pesawat dengan tujuan utama mengangkut hasil perikanan ke Jakarta. Satu-satunya jalan, lanjut Susi, adalah dengan membangun landasan di desa-desa nelayan.
“Jadi, tangkap ikan hari ini, sorenya sudah bisa dibawa ke Jakarta. Kan cuma sejam,” tegas ibu tiga anak dan satu cucu tersebut.
Berbeda jika harus memakai jalur darat yang bisa memakan waktu hingga sembilan jam. Sesampai di Jakarta, banyak ikan yang mati. Padahal, jika mati, harga jualnya bisa anjlok separuh.
“Kami mulai masukin business plan ke perbankan pada 2000, tapi nggak laku. Diketawain sama orang bank dan dianggap gila.
“Mau beli pesawat USD 2 juta, bagaimana ikan sama udang bisa bayar?”, ujar Susi.
Barulah pada 2004, Bank Mandiri percaya dan memberi pinjaman sebesar USD 4,7 juta (sekitar Rp 47 miliar) untuk membangun landasan, serta membeli dua pesawat Cessna Grand Caravan. Namun, baru sebulan dipakai, terjadi bencana tsunami di Aceh.
“Tanggal 27 kami berangkatkan satu pesawat untuk bantu. Itu jadi pesawat pertama yang mendarat di Meulaboh. Tanggal 28 kami masuk satu lagi. Kami bawa beras, mi instan, air dan tenda-tenda,” ungkapnya.
Awalnya, Susi berniat membantu distribusi bahan pokok secara gratis selama dua minggu saja. Tapi, ketika hendak balik, banyak lembaga non-pemerintah yang memintanya tetap berpartisipasi dalam recovery di Aceh.
“Mereka mau bayar sewa pesawat kami. Satu setengah tahun kami kerja di sana. Dari situ, Susi Air bisa beli satu pesawat lagi,” jelasnya.
Perkembangan bisnis sewa pesawat miliknya pun terus melangit. Utang dari Bank Mandiri sekitar Rp 47 miliar sekarang tinggal 20 persennya.
“Setahun lagi selesai. Tinggal tiga kali cicilan lagi. Dari BRI, sebagian baru mulai cicil. Kalau ditotal, semua (pinjaman dari perbankan) lebih dari Rp 2 triliun. Return of investment (balik modal) kalau di penerbangan bisa 10-15 tahun karena mahal,” katanya.
Susi tak hanya mengepakkan sayap di bisnis pesawat dan menebar jaring di laut. Sekarang, dia pun merambah bisnis perkebunan. Meski begitu, dia mengakui ada banyak rintangan yang harus dilalui.
“Perikanan kita sempat hampir rugi karena tsunami di Pagandaran pada 2005. Kami sempat dua tahun nggak ada kerja perikanan,” tuturnya.
Untuk penerbangan rute Jawa seperti Jakarta-Pangandaran, Bandung-Pangandaran dan Jakarta-Cilacap, Susi menyatakan masih merugi. Sebab, terkadang hanya ada 3-4 penumpang. Dengan harga tiket rata-rata Rp 500 ribu, pendapatan itu tidak cukup untuk membeli bahan bakar.
“Sebulan rute Jawa bisa rugi Rp 300 juta sampai Rp 400 juta. Tapi, kan tertutupi dari yang luar Jawa. Lagian, itu juga berguna untuk mengangkut perikanan kami,” ujarnya.
Susi memang harus mengutamakan para pembeli ikannya, karena mereka sangat sensitif terhadap kesegaran ikan. Sekali angkut dalam satu pesawat, dia bisa memasukkan 1,1 ton ikan atau lobster segar. Pembelinya dari Hongkong dan Jepang setiap hari menunggu di Jakarta.

“Bisnis ikan serta lobster tetap jalan dan bisnis penerbangan akan terus kami kembangkan. Tahun depan kami harap sudah bisa memiliki 60 pesawat,” katanya penuh optimisme. Semoga Kisah Ibu Susi ini bisa memacu semangat Generasi Muda Negeri ini untuk berani berusaha dan mau bekerja keras ! Tidak hanya berharap bisa bekerja sebagai pegawai saja, tetapi justru bisa menciptakan lapangan kerja baru di tengah sempitnya lapangan kerja saat ini.
Sumber : semuasaudara.com
Bisnis Laundry kini mulai menjamur di berbagai daerah. Usaha yang memberikan jasa cuci pakaian ini semakin diburu oleh sebagian orang demi alasan kepraktisan. Namun siapa sangka inovasi sistem franchise usaha laundry yang awalnya sekedar iseng, membuat Rahajeng Sasi Kirana (32), pemilik Sun Pretty Laundry sukses membuka 22 gerai bisnis laundry-nya di berbagai kota.

Sasi, biasa ia dipanggil pernah bekerja di LBB Primagama Yogyakarta sebagai accounting sekaligus tentor sebelum akhirnya terjun di bisnis laundry. “Dulu waktu saya di Jogja, melihat banyak sekali tempat laundry yang semuanya ramai. Dari situlah berpikir kenapa nggak buka bisnis laundry saja.

Sasi Kirana (30) Pemilik Sun Pertty Laundry. Sun Pretty Laundry yang didirikan sejak 2010 saat ini telah berkembang hingga memiliki 22 gerai di berberapa kota di luar Solo.

Dengan modal Rp. 2 juta dan mesin cuci pinjaman dari ibunya akhirnya ia nekat memulai usaha laundry di rumah eyangnya yang terletak di belakang kampus Universitas Slamet Riyadi Solo.

Diawal usaha, Sun Pretty Laundry yang terletak di Jl Kalingga VII No 18 Solo ini berusaha menarik pelangganya dengan sistem delivery service. Baju kotor diambil dari tempat pelanggan kemudian dibawa ke gerai dan diantar kembali ke pelanggan setelah bersih. “Awalnya, saya ambil sendiri cucian kotor pelanggan dengan motor dan saya taruh di depan. Seringkali karena banyaknya cucian wajah saya sampai tertutup,” kenang wanita yang lahir 28 Oktober 1980 ini sambil tersenyum.

Melihat persaingan bisnis laundry yang cukup ketat, akhirnya Sasi berinisiatif membuka peluang kemitraan untuk bisnisnya tersebut. “Mitra bisnis pertama saya adalah Ibu Zulkarnain dari Makassar. Sekarang setelah berjalan kurang lebih 3 tahun, bersyukur sudah 22 gerai yang buka,” ujarnya bangga. Gerai Sun Pretty Laundry kini tersebar diantaranya di Surabaya, Tulungagung, Semarang, Sragen, Jakarta, Banjarmasin, Makassar, Batam, dan Bali
Sun Pretty laundry yang merupakan usaha jasa di bidang laundry membuka bisnis dengan sistem kemitraan.

Menariknya dalam bisnis kemitraan Sun Pretty Laundry ini, Sasi tidak memberlakukan royalty fee. “Semua keuntungan yang diraih mitra, menjadi 100% milik mitra. Ini tentu tentu sangat menguntungkan,” jelas Sasi. Sun Pretty Laundry menawarkan berbagai macam paket franchise antara lain paket cute, charm, smart, dan briliant dengan nilai investasi mulai dari Rp20 juta sampai Rp.70 juta.

Sasi mengaku selama ini ia mengandalkan jejaring sosial sebagi media promosinya. “Sekarang twitter, facebook, dan website terbukti ampuh sebagai media promosi. Buktinya, tak hanya di Solo, Sun Pretty Laundry ini juga bisa dikenal di berbagai kota di Indonesia,” aku Sasi menutup wawancara.

Sumber : terasolo.com
- See more at: http://kisahsukses.info/kisah-sukses-sasi-kirana-dengan-bisnis-sun-pertty-laundry.html#sthash.pKBGeRQo.dpuf

Kisah Sukses Ibu Juju dengan Bisnis Kue Bantal


Pada awalnya ibu Juju menjual kue bantal bukan nama asli pada kue bantal yaitu kue cubit dengan lahan alas 3X4m ibu Juju memulai usahanya disebuah pasar yaitu pasar Palmeriam, setelah ibu Juju mulai usaha dalam waktu 4bulan dia baru mulai merasakan ramainya para pembeli yang menghampirinya untuk sekedar membeli saja.

Awalnya para pembeli hanya membeli saja dan pada akhirnya mereka mulai merasakan citra rasa kelezatan rasa kue buatan Ibu Juju, dari pembicaraan ke pembicaraan kue ibu Juju mulai sangat digemari para kalangan ibu-ibu dan bapak-bapak dengan berbagai alasan, tak lama kemudian ibu Juju kena musibah dia tidak kuat berjualan lg karna sakit pada kakinya dan akhirnya Ibu Juju beralih jualan dengan membawa anak bungsunya karena pembeli semakin ramai dan ibu juju semakin tidak sanggup melayani banyak para pembeli.

Dan dengan berjalannya waktu dia mulai berfikir untuk memperluas bisnisnya dengan cara membuka usahanya di pasar lain selama 3bulan dan sementara dipasar lama dia tutup sementara, oleh karna itu dia mempunyai pemikiran negatif dengan berfikir kalau dia tinggali pasar yang lama nanti ada yang nempati tempat usaha dia dan akhirnya dia mulai membuka 2 tempat yang berbeda dan bersamaan. akan tetapi kondisi Ibu Juju semakin lemah an akhirnya dia memutuskan untuk membuka toko kue didepan rumahnya yang berganti nama dengan kue bantal karna dengan ukuran kuenya semakin besar.

2 tahun sudah berjalan usaha dan kelangsungan bisnis Ibu Juju yang semakin maju dan ramai pembeli hingga anaknya mulai mencoba membuka usaha Kue Bantal di daerah Bandung dan berjalan lancar karena ada pelanggannya ibu Juju yang di jakarta dan tinggal di Bandung dan akhirnya dia mempromosikan kue tersebut dan tidak disangka Keluarga Ibu Juju dalam sebulan memperoleh omset sebesar 200 juta dan dia tidak habis fikir karena dia sekolah dengan tamatan SD dan bisa mempunyai toko dan omset begitu besarnya oleh karena itu dia mengatakan bahwa dengan usaha dan kegigihan yang kuat akan membuahkan hasil maksimal.

Pada awalnya pak Sudarso hanya memiliki lahan tanak 50 X 35 meter dan dia memanfaatkan lahan tersebut tuk membuat pemancingan ikan lele dengan modal sangat minim dan dibantu 2 kedua anaknya dan bpk Sudarso memulai menggali kedalaman lubang tempat pemancingan tersebut akan tetapi Bpk Sudarso membutuhkan waktu yang sangat lama selama 3 bulan dengan tenaga yang sedikit dan modal yang minim.

Selang 3 bulan kemudian bpk Sudarso sdh berhasil membuat lubang pemancingan tersebut dan siap diisi air dan ikan-ikannya selang waktu berganti bpk Sudarso mulai membuka tempat pemancingannya itu dan mulai banyak orang yang berdatangan untuk memancing dengan harga Rp 85,000 bpk Sudarso bisa meraup untung 2X lipat dalam 1 minggu dikarnakan ramai pengunjungnya cuma hari-hari libur saja.

Dan semakin lama semakin ramai tempat pemancingannya dan bpk sudarso mulai memikirkan untuk membeli ikan lele biang 10 pasang yang siap bertelur, tak bisa dipungkiri bpk Sudarso mengalami masalah karna dia tidak punya bakat untuk berternak lele biang lalu iakan-ikannya yang betina mati 7 ekor lalu bpk Sudarso mengeluh dan sedih dengan langkah yang dia ambil.

dengan persediaan ikan dikolammya semakin sedikit bpk Sudarso menghentikan usahanya sementara sambil mencari pinjaman modal untuk membeli ikan lele lagi, setelah agak lama tidak membuka tempat pemancingannya akhirnya masalah terselesaikan ada salah satu pemancing yang seringmancing di tempat itu dan bertanya lalu dia membicarakan permasalahannya lalu sipemancing itu meminjamkan modal untuk bpk Sudarso.

Dan bpk sudarso akhirnya meneruskan usaha bisnisnya dengan dia membeli ikan-ikan lagi dan mengikuti salah satu kegiatan Bisnis Usaha Rakyat dan dia tahu bagaimana caranya untuk menernak ikan lele dan bagaimana untuk mengembangkannya.

Akhirnya ilmu pengetahuan dimiliki dan dia mulai berfikir untuk membuka lahan lagi yang ada di belakan rumahnya sebagai tempat peternakan lele, akhirnya dalam waktu 8 bulan bpk sudarso bisa mengembalikan hutangnya, dan dia ber niat untuk membeli lahan sepetak tanah didaerah Bogor dan Depok.

Kian lama bisnis Pemancingan bpk sudarso semakin dikenal banyak kalangan dari daerah Jakarta dan Bandung, tak lama kemudian bpk Sudarso melihat tempat pemancingannya semakin rame pemancing dan dia mulai membuka usaha bisnis baru yaitu pemasok ikan lele ke warung-warung makan Pecel lele.

Kurang lebih 2 tahun bpk Sudarso baru bisa merasakan berapa besar keuntungannya yang dia dapat dan bapak Sudarso menyadari bahwa dari bisnis usahanya itu dia mendapatkan keuntungan sampai Rp40 juta.

Dari semua yang harus anda ketahui bahwa saya memulai bisnis saya dari rasa yakin dan percaya bahwa saya siap menerima kegagalan jika saya mau menjadi orang sukses dalam bidang saya ini,” kata bpk dua anak ini.

Kisah Sukses Ibu Susi dengan Bisnis Ice Cream Goreng


Apakah anda penyuka Ice Cream atau Es Krim? Jenis es krim apa saja yang sudah pernah dicoba? Pernah makan es krim tapi digoreng? Jika belum, ‘Ice Cream Goreng’ Polariz akan menyajikannya untuk anda.

Susi (36), si pemilik mengatakan, Ice Cream Goreng ini diciptakan untuk memberi variasi yang berbeda dari es krim yang pernah ditemukan seperti biasanya. Dengan menyediakan 9 rasa, seperti cokelat, durian, strawberry, vanila, neopolitan (strawberry, cokelat, vanila), mocca, Mr Black (cokelat ada oreonya), sweet oreo (es krimnya vanila ada oreonya) membuat es krim ini semakin bervariasi. Dengan hanya membayar Rp 9.000 per bungkusnya, pembeli sudah merasakan sensai panas dinginnya.

“Lapisan luarnya kita pakai tepung roti, di dalamnya es krim. Kita semua home industri dan dirancang khusus untuk es krim goreng jadi digoreng enggak cepat cair.

Dia mengatakan, dalam sehari biasanya mampu meraup omzet hingga Rp 500-600 ribu, atau sekitar Rp 15-16 juta per bulannya.

Saat ini, dia menyebutkan pihaknya sudah memiliki 20 outlet yang tersebar di wilayah Jabodetabek. “Sekarang lagi launching di Bogor dan Bandung,” katanya.

Bagi yang tertarik, bisa bergabung dengan menyiapkan investasi sebesar Rp 11 juta lengkap dengan gerobak dan isinya. Keuntungannya 100% untuk mitra.

“Setelah berinvestasi jadi hak milik selamanya. Selain dapat gerobaknya, kita juga kasih 4 lusin es krim dengan 4 rasa, bebas milih. Biasanya 4 lusin dari kita, 5 lusinnya belanja sendiri. Satu lusin harganya Rp 43.200, dijual Rp 7.000 satuannya,” ujarnya.

Dalam pameran ‘Pesta Wirausaha’ yang diadakan Komunitas Tangan Di Atas (TDA), di JIExpo, Kemayoran, Jakarta, Susi menargetkan menggaet 20 mitra. “Target 3 hari kita bisa gandeng 20 mitra,” kata Susi.

Sumber : jpmi.or.id
Kue Pukis adalah kue tradisional yang sering kita jumpai di pasar-pasar tradisional maupun di toko-toko roti. Kue ini mempunyai rasa gurih yang khas, biasanya didalamnya diselipi dengan selai nanas atau rasa lainya sesuai selera. Kue yang biasanya mempunyai dua warna kuning dan coklat.

Menurut beberapa sumber para pengusaha kue jenis ini berasal dari gombong kebumen jawa tengah. Hampir sebagian besar pedagang kue pukis di pasar-pasar kota besar di jawa berasal dari daerah ini. Salah satu pengusaha kue pukis yang berhasil kami temui adalah Pak Kuat. Pria kelahiran Gombong 28 tahun lalu ini sudah berkecimpung dalam usaha ini lebih dari 10 tahun. Diawali tahun 1996 selepas bangku SMP langsung pergi ke jakarta untuk ikut salah seorang kerabatnya yang berjualan kue pukis.

Setelah beberapa tahun singgah di beberapa kota besar seperti banjarmasin dan surabaya akhirnya Kuat memutuskan untuk mendirikan usaha sendiri di jogja mulai tahun 2006. Bisnis kue pukis cukup menguntungkan, buktinya kini Pak Kuat dapat menghidupi anak dan istrinya serta 4 orang karyawannya.

Bahan baku untuk membuat kue pukis ini adalah tepung, kelapa, telur ayam, gula pasir, essence,fermipan, soda kue. Alat-alat yang digunakan dalam usaha ini relatif sederhana yaitu : kompor, ember, teko, gayung, dan cetakan. Pertama-tama kelapa diambil santannya kemudian dicampur dengan tepung terigu. Gula dan telur dikocok sampai gula larut. Masukkan campuran santan dan terigu ke dalam kocokan telur. Tambahkan fermipan dan soda kue . Kemudian adonan ditaruh di ember dan ditutup dengan kain basah. Adonan dibiarkan selama 6 jam sampai mengembang. Adonan sudah jadi siap untuk dipanggang dalam cetakan.

Menurut Pak Kuat, mengatakan kendala yang sering ditemui adalah adonan tidak mengembang sempurna. Untuk mengatasi hal tersebut Kuat mempunyai trik yaitu dengan meneteskan air nanas kira-kira 10 tetes ke dalam adonan. Komposisi yang bagus untuk membuat adonan adalah kelapa 1 kg, gula 1 kg, telur 3 butir, tepung 2 kg.

Dalam setiap harinya Pak Kuat mampu menghabiskan 24 kg Tepung terigu. Dari setiap 2 kg tepung terigu bisa menghasilkan sekitar 150 buah kue. Biasanya dijual 10 buah kue setiap bungkusnya. Kue dijual 4- 5 ribu rupiah per bungkusnya. Omset yang diperoleh setiap harinya berkisar antara 500 ribu-600 ribu. “Bahkan ada salah seorang pengusaha kue pukis yang biasa jualan di depan toko progo mempunyai omset 1,2-1,5 juta” pungkasnya.

Dalam menjalankan usahanya Pak Kuat dibantu oleh istri dan 4 orang tenaga pemasaran. Pemasarannya meliputi 4 pasar yang berada di wilayah Jogja utara. Sistem yang digunakan adalah setiap Paket biasanya isi 150 buah kue, dan untuk setiap paketnya tenaga pemasaran menyetor 46 ribu kepada Kuat. Para pelanggan adalah ibu-ibu rumah tangga yang sering berbelanja di pasar tradisional. Kendala yang sering dihadapi adalah pada waktu musim penghujan penjualan turun dikarenakan tidak banyaknya orang yang berbelanja di pasar.

Ketika ditanya kenapa tidak meluaskan usahanya sampai ke pasar-pasar dalam kota, Kuat menjawab bahwa hampir semua pengusaha dan pedagang yang berada di jogja saling mengenal dan berasal dari satu daerah. sehingga timbul rasa tidak enak untuk merebut lahan penghidupan teman sendiri.

Ketika penulis mengusulkan supaya tidak bertabrakan di lahan yang sama (pasar), bagaimana kalau pemasaran secara langsung ke konsumen melalui instansi, warung burjo atau kost-kostan dengan sistem titip jual seperti halnya kue donat yang sering memakai sistem ini. Kuat dengan antusias menjawab akan mencoba cara ini sebagai salah satu usaha memperluas jaringan pemasarannya.

Sumber : jpmi.or.id

Kisah Sukses Pak Ran & Ibu Sri dengan Bisnis Tahu Tuna

Bisnis Kuliner memang tak pernah surut. Pengusahanya pun terus menciptakan menu baru, seperti tahu berisi ikan tuna. Tahu tuna ini terbukti sangat digemari. Berkat tahu tuna, produsen tahu tuna di Pacitan bisa meraup omzet ratusan juta per bulan.

Tahu merupakan makanan ringan yang sangat akrab dengan lidah orang Indonesia. Selain kandungan proteinnya tinggi, tahu banyak dikonsumsi karena harganya yang murah.

Untuk mendongkrak harga tahu ini, pengusaha makanan sering menambahkan olahan lain sebagai pengisi tahu. Langkah ini pula yang dilakukan Sri Sumiati. Pemilik usaha Olahan Tuna Pak Ran asal Pacitan ini menambah adonan tuna sebagai bahan pengisi tahu.

Sri belanja tahu putih dari pabrik tahu hingga sebesar Rp 1,5 juta hingga Rp 2 juta per hari. Tahu putih ini kemudian dia goreng dan di dalamnya diberi isi adonan tuna. Setiap hari, Sri membutuhkan satu kuintal tuna sebagai pengisi tahu.

Bersama suaminya, Pak Ran, Sri menggeluti bisnis olahan ikan tuna sejak 2009. Produk awal olahan tuna Pak Ran adalah bakso ikan tuna, pepes tuna, dan tuna bakar. Sri pun terus berinovasi supaya usahanya tetap berkembang.

Produk Tahu Tuna merupakan hasil inovasinya tahun ini. “Kami baru mencoba awal tahun ini, peminatnya banyak,” kata Sri. Tiap hari, Sri mampu menghasilkan tahu tuna sebanyak 1.500 bungkus. Tiap bungkusnya berisi 10 buah tahu tuna yang siap makan. Alhasil, dalam satu bulan Sri mampu memproduksi 45.000 bungkus.

Ia menjual satu bungkus tahu tuna seharga Rp 4.500 hingga Rp 5.000. Dari jualan tahu isi tuna ini, saban bulan Sri pun mampu menangguk omzet antara Rp 200 juta hingga Rp 230 juta.

Sri mengaku, awalnya hanya memasarkan produknya sebagai jajanan oleh-oleh wisata Pacitan. Namun, karena rasanya enak, tahu tuna Pak Ran kebanjiran pesanan. “Order banyak berasal dari Surabaya, Malang, Yogyakarta, dan Solo. Biasanya, sekali pesan, mereka minta sebanyak 500 bungkus,” kata Sri.

Sedendang seirama dengan Sri, pembuat tahu tuna lainnya, yakni Dewi Indriani asal Bogor juga menuai berkah dari penganan ini. Wanita berusia 39 tahun ini memulai usaha pembuatan tahu tuna sejak Juli 2011. Seperti halnya Sri, Dewi menggunakan tahu karena banyak penggemarnya. Membuat tahu tuna ini merupakan produk terobosan baru dari usaha Dewi.

Selain itu, Dewi juga melihat kesadaran masyarakat terhadap produk ikan tuna masih rendah. Padahal, ikan tuna sangat kaya akan protein dan omega 3.

Meski baru setengah tahun mengembangkan usaha ini, Dewi sudah memiliki pelanggan tetap yakni sebuah hotel di kawasan Bandengan, Jakarta Utara. Dalam sebulan, ia memasok sekitar 150 kg ke hotel tersebut. Sedangkan sisanya, dia distribusikan di beberapa restoran di Jabodetabek.

Dewi pun bisa meraup omzet hingga Rp 21 juta saban bulan. Ia menjual produknya dengan harga Rp 40.000 untuk ukuran 500 gram. Isi kemasannya terdiri dari 24 potong tahu.

Dewi yakin bisnis pembuatan tahu tuna ini sangat menjanjikan ke depannya. Selain pemainnya masih jarang, dengan tambahan ikan tuna, gizi tahu tentu menjadi lebih tinggi. “Masalahnya ada di strategi pemasaran,” ujarnya.

Maklum, selama ini, Dewi masih mengandalkan pemasaran langsung, dengan mendatangi hotel atau restoran. “Mereka memiliki pengetahuan yang lebih baik tentang nutrisi tahu tuna,” ujarnya.

Sumber : bisniskeuangan.kompas.com