Friday, 5 October 2012

Salah Kaprah Tentang Pengusaha Sukses

Salah Kaprah Tentang Pengusaha Sukses
Memang tidak mudah membentuk pikiran positif untuk memulai berbisnis, …. penyebabnya bisa bermacam-macam antara lain adanya Mitos tentang Bisnis. (foto; google)

Memang tidak mudah membentuk pikiran positif untuk memulai berbisnis, …. penyebabnya bisa bermacam-macam antara lain, …. adanya "Mitos tentang Bisnis".
Untuk penyebab yang satu ini, setidaknya ada empat anggapan yang membuat masyarakat kita salah kaprah memandang dunia bisnis, … yaitu masalah "Bakat, Keturunan, Modal, dan Risiko". Karena itu salah kaprah ini sampai sekarang tetap menjadi mitos.
Mitos pertama, … Bakat:
Dikatakan bahwa untuk menjadi entrepreneur memerlukan Bakat!. …. Apakah benar?
Entrepreneur adalah suatu profesi yang dijalani seseorang untuk berkarir yang sekaligus juga sebagai mata pencaharian. Sama seperti menjadi petani, nelayan, dokter, insinyur, karyawan swasta, … ataupun profesi-profesi lainnya.
Sekarang, sebaliknya saya bertanya, …. apakah seseorang harus memiliki bakat untuk menjadi petani, nelayan, dokter, insinyur, atau pun karyawan swasta?. Jadi dimana letak kelebihannya profesi pebisnis dibandingkan dengan profesi-profesi lainnya. Dengan kata lain, … kesuksesan atas suatu profesi tertentu tidak semata-mata tergantung dari faktor bakat saja. Terlalu banyak faktor-faktor atau pun hal-hal yang mempengaruhi sukses atau tidaknya seseorang menjalankan profesinya.
Mitos Kedua, … Keturunan:
Dikatakan bahwa pebisnis bisa sukses karena memiliki darah bisnis dari orang tua, … mertua, … kakek, … nenek, … atau kerabat lainnya yang masih ada hubungan darah.
Menurut saya ini suatu anggapan yang salah (mengecilkan semangat orang-orang yang tidak mempunyai darah keturunan seperti yang disebutkan diatas), …. sangat banyak contoh pebisnis sukses yang orang tuanya adalah pegawai negeri golongan rendahan, petani, dosen , dan sebagainya. Dan ada juga istri-istri pegawai negeri golongan rendahan, … yang sukses bisnisnya (diantaranya ada istri saudara ipar saya yang jadi juragan besar rempah2 di Magelang), …. yang padahal kira2 dua puluh tahun yang lalu, dia mengawali usahanya hanya untuk sekedar membantu mencari tambahan, karena penghasilan suaminya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya sehari-hari (dulu suaminya tukang antar surat di kantor Pemda, kini sudah pensiun dan membantu istrinya).
Dan kalau pun kita mendapati atau menemui ada pebisnis yang sukses karena ia anak seorang pengusaha, …. coba lihat secara arif, … apakah kakeknya juga seorang pengusaha (lebih lanjut baca autobiografi pengusaha2 sukses Indonesia).
Mitos Ketiga, …. Modal
Banyak orang beranggapan, bahwa untuk memulai bisnis diperlukan modal yang besar. Memang, …. untuk memulai suatu bisnis diperlukan kecukupan modal, … tetapi itu bukan satu-satu persyaratan mutlak. Banyak contoh entrepreneur yang memulai usahanya tanpa kecukupan modal, namun …. mampu berkembang dengan pesat.
Kalau modal belum ada atau modal masih sangat terbatas, … maka langkah yang dapat ditempuh antara lain dengan memulai usaha dari yang kecil dulu, … atau menjadi mediator dalam transaksi bisnis, … menjual barang secara konsinyasi, … atau meminta uang muka dari pemesan yang memerlukan barang yang kita tawarkan (dasar kepercayaan) .
Mitos Keempat, … Risiko:
Ada anggapan bahwa bisnis adalah profesi yang penuh risiko, … atau tidak ada kepastian masa depan, … dan tidak mempunyai uang pensiun. Anggapan ini tentunya tidak dapat begitu saja kita terima secara mentah2, … mengapa?, … karena setiap upaya, … setiap profesi … tidak ada yang seratus persen bebas risiko.
Dan mengenai uang pensiun, … jika seorang pebisnis rajin mengelola keuangannya dengan cermat dan teliti, … yakni dengan menyisihkan sebagian dari pendapatannya (keuntungan usahanya) untuk ditabung, …. maka tabungan tersebut dapat dijadikan atau dianggap sebagai uang pensiun, … sekarang banyak asuransi (termasuk asuransi syariah) yang menyediakan fasilitas atau menawarkan jaminan hari tua (baca pensiun).
Semisal, … seorang anak ketika baru mulai belajar berjalan, … ada yang jatuh berkali-kali (nangis sebentar) yang kemudian bangun lagi, … ada juga yang waktu belajar, …. oke-oke saja alias selalu dibimbing oleh orang tuanya, .. atau dengan bantuan alat yang dirancang khusus untuk belajar berjalan, .. pendek kata … bermacam-macam … lah caranya, … tapi setelah dewasa .. ada yang kemampuan berjalannya, …. hanya dipergunakan untuk berjalan-jalan saja, … ada juga yang kemudian menjadi pemain bola profesional (gajinya ada yang diatas seratus juta per bulan ditambah bonus), … ada juga yang menjadi pelari nasional (mengharumkan nama bangsa), …. dsb.
Jadi, … jangan terkungkung dengan mitos, … sekali lagi …. bisnis adalah profesi, .. coba lihat di kantor2, …. ada serombongan anak muda (sepuluh orang) yang sama2 masuk kerja di suatu perusahaan yang sama, … katakanlah kesepuluh orang muda itu sama-sama menyandang gelar sarjana ekonomi …. pertanyaannya …. apakah ada jaminan setelah lima tahun kerja di perusahan tersebut, … kesepuluh orang yang seangkatan itu semuanya menjadi manager? ….. Begitu juga halnya dengan bisnis .. kita jangan hanya melihat si anu sukses bisnisnya padahal dia baru lima tahun buka usaha yang sama dengan kita, …. tapi mengapa kita koq begini2 saja walau telah lima tahun usaha, … Apakah kemudian kita menyatakan bahwa kita tidak punya darah bisnis? …. (darah kita sama-sama merah khan?), … atau apakah kita bilang bahwa kita tidak punya bakat? dsb, …. tanpa mau meneliti atau mengkaji mengapa kog kita begini2 saja.
Tips untuk rekan-rekan pengusaha muslim, … tambahkan juga introspeksi diri dengan bagaimana amal ibadah kita? , … bagaimana kita berniaga?, .. Apakah telah sesuai dengan tuntunan Syariat Islam? dan jangan lupa memohon pertolongan Allah Taala.
Selamat berjuang kawan, … semoga sukses di dunia dan akhirat. Amin
Nah, … itulah sekedar bahasan kita tentang mitos bisnis, … dan selanjutnya …. tergantung cara pandang kita, atau tolok ukur kita, …. mengenai parameter kesuksesan usaha kita, …. apakah dari banyaknya kita memiliki aset (rumah, tanah, vila, mobil dsb..), … yang pada gilirannya itu semua menjadi milik orang lain (ahli waris, dsb), … yang terbawa oleh kita hanyalah amal kebajikan kita, ilmu yang bermanfaat, dan anak2 yang saleh … yang selalu mendoakan orang tuanya. (kompasiana.com)

2 comments: