Monday, 4 February 2013

Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Selatan mengungkapkan, kelompok bahan makanan penyumbang terbesar terhadap inflasi di Kota Banjarmasin pada Januari 2013.

Hal itu terlihat dari kenaikan harga yang ditujukan oleh naiknya indeks berbagai keperluang yang mempengaruhi terjadinya inflasi tersebut, ungkap Kepala BPS Kalsel Iskandar Zulkarnain, Senin.

Pada Januari 2013 Kota Banjarmasin mengalami inflasi sebesar 1,14 persen. Hal itu terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukan oleh naiknya indeks pada kelompok bahan makanan sebesar 4,23 persen.

Kemudian kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau sebesar 0,12 persen; kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar naik sebesar 0,04 persen.

Selain itu, kelompok sandang sebesar 0,21 persen; kelompok kesehatansebesar 0,05 persen; dan kelompok pendidkan, rekreasi, dan olah raga sebesar 0,09 persen.

Sementara itu, kelompok transport, komunikasi, dan jasa keuangan tak ikut mempengaruhi inflasi di "kota seribu sungai" Banjarmasin tersebut, karena turun 0,56 persen.

Menurut komponennya, barang-barang yang harganya dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah (administered goods inflation) secara umum mengalami inflasi sebesar 0,14persen.

Sedangkan harga yang bergejolak (volatile goods inflation) inflasi sebesar 3,95 persen dan komponen inti (core inflation) mengalami inflasi sebesar 0,09 persen.

Laju inflasi tahun kalender (Januari-Januari) 2013 sebesar 1,14 persen, sedangkan laju inflasi year on year (Januari 2013 terhadap Januari 2012) sebesar 4,13 persen.

Dari 66 kota di Indonesia yang menjadi sampel, tercatat 62 kota mengalami inflasi, sedangkan empat kota lainnya mengalami deflasi.

Inflasi tertinggi terjadi di Kota Sibolga, Sumatera Utara sebesar 3,78 persen dan terendah di Kota Pontianak, Kalimantan Barat sebesar 0,01 persen.

Deflasi tertinggi terjadi di Kota Sorong, Papua Barat sebesar 0,98 persen dan terendah di Kota Ternate, Maluku Utara sebesar 0,20. Sumber : Ciputra News

1 comment: